Bunga tidur yang kususun menjadi potongan cerita kecil, kubagikan dalam rangka memberi emosiku tempat muara nya. Di sisi dinding yang lebih banyak panas dibanding hangat, bahkan angin pendingin ruangan nya pun sering tidak mampu menurunkan suhu ruangan di sekitarnya.
Ruang kecil itu selebar 6 ubin putih, tempatku mengumpulkan sisa-sisa energi selepas aku bekerja 12 jam lama nya. Jelas, tidur adalah tujuan utamaku pulang selain makan. Tidur kali ini tidak kudahului dengan berdoa, toh aku akan tetap bermimpi apapun bahasa semesta yang ku yakini ingin dibisikkannya kepadaku.
Mimpi kali ini lebih aneh dari biasanya, tapi tidak semenyeramkan dahulu. Mayat-mayat hidup dengan air muka abu-abu seringkali mendekat, tapi tidak cukup punya energi meraih tangan atau kepalaku. Lucunya, mayat-mayat tersebut memakai alat bantu kencing seperti kebanyakan pasien yang kurawat. Jujur, bukan nya takut aku malah terbahak-bahak. Bahkan di alam mimpi, bagian dari pekerjaan ku seakan tidak mau ketinggalan eksis.
Di lain potongan gambar, aku dipertemukan oleh ibuku, wajah nya sama seperti saat ini namun mata dan raut ekspresinya tidak memperlihatkan sosok ibu yang ku kenal. Ia menatap kosong, duduk bersimpuh seperti tahiyat awal tanpa menunjuk tentunya. Aku duduk pula mengamati, diluar sana banyak orang ingin masuk, berebut memperhatikan dari luar pintu dan jendela mendorong kepala demi kepala dengan agresif. Siapa pula orang-orang ini? aku bahkan tidak mengenalnya.
Ibuku cuma diam, aku menegurnya berkali-kali bertanya ada apa? apa yang ia pikirkan? Lalu suara keramaian meneriakkan ibuku untuk mengaku. Mengaku apa? paksaku bertanya pada kerumunan.
“Ia meminjam sesuatu dariku” Sahut suara perempuan.
“Ia berhutang padaku” Suara lain mengikuti.
Tidak mungkin, gumamku dalam hati. Aku sudah berkali-kali bilang padanya untuk berhenti berhutang, besar atau kecil. Aku meneriakkan di depan wajahnya aku kecewa padanya. Aku marah pada nya.
“SETANNNN…” umpatku pada nya. Yang kutahu bahwa jiwa nya tidak disitu. Jika dilain waktu aku menangis sebelum mampu meneriakinya, kali ini amarahku menemukan celahnya untuk keluar.
Aku marah, pada ia yang terlalu sering menyerah pada kemiskinan. Aku marah, pada ia yang seringkali bilang bahwa kami tidak mampu untuk membangun hidup jika tidak meminjam. Aku marah, pada nya yang tidak punya kekuatan. Duh, sakit tenggorokan aku meneriakinya. Yang kusadar kemudian bahwa tubuhku di dunia nyata meronta-ronta seiring alam tidurku menjerit.
Bulan penuh menunjukan eksistensinya di sepertiga sore itu, sedang aku memaksa menyadarkan diri karena harus bekerja lagi. Aku lelah, kelelahan sampai-sampai lutut dan betisku berdenyut, pundakku keras dan tengah dahiku kesakitan.
Ah rupanya aku masih marah, diam-diam tubuhku menunjukannya. Bukan kepada apa-apa yang menyentuhku, tapi ia yang diam diam bertumbuh di aku. Aku alirkan bersama air sabun saat keramas, berharap kemarahan yang tersisa bisa aku dinginkan setidaknya.
Lalu aku kembali bekerja, memaafkan diriku dan dirinya dalam kesulitan yang kita berbanyak hadapi saat ini. Belum, belum sampai otot-ototku ikut tenang, atau tiba-tiba aku jadi lega dan tertawa. Tapi setidaknya langkahku maju duluan, aku berusaha.
-rikatianah

Leave a comment