Tubuh Kita Tahu yang Sebenarnya : Pengalaman Belajar Healing melalui Metode QTEH

Buat kita yang mempelajari ilmu perdietan pasti kalimat “tubuh memiliki kecerdasan sendiri” pasti sudah bukan hal yang asing lagi.

Dan ternyata kalimat ini juga berlaku dalam dunia medis, terutama bidang psikologi somatik (somatotherapy) dan spiritual.

Para ahli terapi somatik percaya bahwa tubuh memiliki memori dan kecerdasan emosional sendiri yang lebih jujur dari otak kita.

Otak kita bisa menyangkal suatu trauma, namun tubuh kita tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Mei 2026 lalu, Teh Tiwi, guru spiritual kesayangan kami, mengajak kami belajar untuk healing trauma, melalui metode QTEH, yang dibawakan oleh Tim Rumah Bahagia Indonesia, antara lain Pak Andre, Pak Yunus, Pak Andi dan Pak Dany.

Mengenal QTEH : Ketika Ilmu Barat bertemu dengan Pendekatan Spiritual

QTEH, singkatan dari Quantum Trauma Emotional Healing, suatu metode penyembuhan diri yang dikembangkan oleh Ir. Widodo Tedjo Soekemi.

Tujuan dari metode QTEH ini, yakni supaya kita lebih memahami tentang makna hidup yang bahagia, bagaimana kita menjalaninya dengan kebahagiaan, serta dapat menjaga rasa bahagia itu dalam diri kita.

Metode ini terinspirasi dari kombinasi ilmu psikologi dan terapi alternatif yang populer di luar negeri, antara lain :

Ada skala unit bahagia, yang terinspirasi dalam SUDS (Subjective Units of Distress Scale) yang diciptakan oleh Joseph Wolpe tahun 1969.
Kalau dalam SUDS, cara bacanya 0-10, dengan ketentuan 10 artinya sangat stress.
Dalam QTEH, angka dimulai dari 10-100, dengan ketentuan 100 sangat bahagia.

Pelacakan akar trauma dengan tes otot, terinspirasi dari ilmu Kinesiologi Terapan dan Behavioral Kinesiology yang dikembangkan oleh Dr. George Goodheart dan Dr. David Hawkins.

Dalam buku Power vs Force, Dr. David Hawkins memetakan tingkat kesadaran manusia menggunakan tes kekuatan otot tubuh.

Konsep memori masa kandungan dan masa kecil, yang dalam QTEH, trauma kita akan dilacak dari usia kita lahir hingga ke masa janin.

Terinspirasi dari Prenatal & Perinatal Psychology, dan konsep Inner Child Healing yang diprakarsai adalah Arthur Janov dan John Bradshaw.

Pelepasan emosi negatif traumatik, melalui doa tobat.
Doa ini bertujuan untuk menurunkan gelombang otak ke delta/theta, sehingga tubuh bisa masuk ke mode pemulihan (self-healing).

Ilmu ini terinspirasi dari EFT (Emotional Freedom Techniques) atau Tapping yang dipopulerkan Gary Craig, serta TIR (Traumatic Incident Reduction), yang dimana metode ini bertujuan untuk memutuskan muatan emosi negatif dari memori masa lalu, sehingga ketika ada trigger, memori tersebut ga lagi menyakitkan.

Dengan kombinasi tersebut, metode QTEH pun dirancang oleh Pak Widodo, sedemikian rupa tanpa menggunakan obat atau bantuan medis lainnya, sehingga hanya menghadirkan aku dan jiwaku, serta Tuhan, dengan perantara terapis.

Alur Unik Penelusuran Emosi dengan Kinesiologi

Kombinasi metode healing tersebut membuat metode QTEH menjadi alur yang menarik.

Tes otot tangan (kinesiology) menjadi metode utama dalam penelusuran emosi yang kita rasakan, dengan alur :

  • Mengecek skala unit kebahagiaan kita dari 10-100.
    Kriterianya angka 50 menjadi batas minimal kebahagiaan, dan angka 100 mengindikasikan sangat bahagia.
    Dibawah 50, maka emosi kita sedang mengalami permasalahan. Dan disini pun, dicari kondisi emosi kita ada di angka berapa.
  • Bila diketahui dibawah 50, maka akan dicek emosi negatif apa yang ada dalam diri kita.
  • Menelusuri akar trauma dengan pembagian emosi negatif ini karena original diri kita, atau trauma turunan.
    Ketika hasilnya trauma turunan, maka akan dicari tahu dari ayah atau ibu, dan saat usia kita berapa, kemudian ditelusuri emosi apa yang dirasakan ayah atau ibu kita yang akhirnya kini kita rasakan.
  • Setelah mengetahuinya, kita diajak oleh terapisnya untuk doa tobat dan mendoakan orang tua atau pihak lain yang membuat kita memiliki emosi tersebut.
    Doa tobat ini memunculkan rasa empati terhadap orang tua, dan ga lagi menyalahkan, dan keinginan untuk memperbaiki diri dengan melepas emosi tersebut.

Belajar 12 Jam yang Ga Terasa Bosan!

Kami mendengarkan tim Rumah Bahagia Indonesia saat menjelaskan tentang Metode QTEH | Foto : Erdina

Kami seharusnya belajar dari pukul 09.00 sampai dengan 17.00 WIB, tapi kenyataannya?

Kami baru selesai pukul 21.00 WIB!! Benar-benar 12 jam yang ga terasa sama sekali karena pembahasannya super seru, apalagi kalau sudah menyangkut emotional healing.

Karena materi ini sangat dalam, pembelajaran kemarin belum sempurna.

Rencananya, Teh Tiwi dan tim Rumah Bahagia Indonesia akan mengadakan sesi materi selanjutnya.

Doain yaa, semoga ada jadwal yang cocok dan kami bisa segera meneruskan materi ini! 😁

Bagaimana dengan kamu?

Apakah ada teman-teman disini yang juga belajar metode QTEH?
Yuk, berbagi pengalaman atau cerita tentang efek emosi yang kamu rasakan setelah menjalani metodenya 😁

Leave a comment