Seberapa banyak orang yang meninggal dalam kondisi menjalani apa yang mereka mau?
Obrolan GMeet tadi malam yang terngiang ketika aku bangun tidur.
Iseng, aku bertanya pada Gemini, berapa persen orang hidup menjalani yang mereka mau?
Jawabannya, sekitar 10-15% orang yang hidup menjalani sesuai yang mereka inginkan.
Dan hal tersebut bukan sekedar asbun, tapi ada risetnya, antara lain :
Riset Conell University : “The Ideal Self Regret” – Tom Gilovich & Shai Davidai, 2018
Dalam riset yang dipublikasikan dalam Jurnal Psikologi, mereka membagi penyesalan menjadi dua, yakni
- Ought-Self Regret, menyesal karena gagal memenuhi kewajiban/ tanggung jawab sosial
- Ideal-Self Regret, menyesal karena gagal mewujudkan mimpi, potensi asli, dan hidup yang benar-benar mereka inginkan.
Sekitar 72% orang mengaku menyesal dalam kategori Ideal-Self Regret.
Hanya sekitar belasan persen yang sejak muda konsisten mengejar ideal-self tanpa menyerah pada tekanan sosial.
Teori Aktualisasi Diri Abraham Maslow & Data Populasi
Dalam buku Motivation & Personality yang ditulis oleh Maslow memberikan estimasi hanya 1-2% orang yang benar-benar menjadi diri sendiri dan menjalani apa yang menjadi panggilan jiwanya.
Kriteria dalam Psikologi Modern pun diperlonggar dengan sifat “cukup otonom” dalam menentukan nasibnya sendiri, dan hasilnya muncul sekitar 10-15% yang masuk dalam kelompok individu dengan high otonomy (kemandirian ekstensial tinggi).
Kalau tadinya aku mengasihani diri sendiri karena selalu saja ada “benturan” ketika ingin menjalani panggilan jiwa.
Melihat hasil riset diatas, ditambah dengan pengalaman hidup teman-teman komunitasku, rasa kasihan itu menjadi rentetan pertanyaan
- Mengapa kita memiliki tembok yang begitu tinggi untuk melakukan apa yang kita mau?
- Dari kapan hal ini terjadi?
- Siapa yang membuat sistemnya?
- Adakah solusinya?
Yuk, kita jabarkan…
Mengapa kita memiliki tembok yang begitu tinggi untuk melakukan apa yang kita mau?
Adanya sistem yang mengunci kita melalui “Ekonomi Bertahan Hidup”.
Sistem peradaban kita sejak masa zaman pertanian hingga kapitalisme modern memiliki desain manusia harus menukar waktu dengan uang demi bertahan hidup.
Contohnya, aku ingin menjadi penulis idealis, atau bisa saja ada yang ingin menjadi pelukis, mendirikan komunitas yang bermanfaat bagi orang banyak, dan sebagainya.
Tapi kita ga bisa menutup mata ada kebutuhan sehari-hari yang perlu dibayar, yang nominalnya ga bisa kita beli dengan profesi idealis yang kita inginkan.
Mau ga mau kita memilih pekerjaan yang bisa menghasilkan uang, demi kebutuhan hidup. Ketimbang harus melakoni panggilan jiwa, yang nominalnya belum tentu bisa menutupi kebutuhan hidup.
Biasanya, ketika uang sudah terkumpul, kita sudah terlalu lelah menjalani apa yang kita sukai.
Nah, fenomena ini dinamakan “ekonomi bertahan hidup” oleh David Graeber, dalam buku dan artikel jurnalnya yang meriset “mengapa di zaman modern ini banyak orang yang terjebak pada pekerjaan yang ga mereka sukai, tapi ga bisa lepas”.
Jawabannya, manusia secara masif mengorbankan waktu, kreativitas dan panggilan jiwanya untuk ditukar dengan gaji dan status sosial, karena struktur ekonomi memaksa manusia untuk tetap menjadi “sekrup” di dalam mesin korporasi agar bisa bertahan hidup.
Tekanan “Skrip Sosial” dan Ketakutan Dihakimi
Adanya standar sosial menjadi salah satu tembok kita untuk berekspresi sesuai panggilan jiwa.
Seperti pintar itu artinya nilai akademis bagus, sukses itu artinya punya jabatan atau bisnis yang mentereng.
Sebagai makhluk sosial, kita cenderung mau diterima oleh lingkungan kita, seperti keluarga, teman dan standar masyarakat. Dengan begitu kita menyesuaikan dengan standar mereka.
Yang lucunya, dalam Catatan Pinggir yang ditulis oleh Goenawan Mohamad, standar hidup kita mengikuti standar internasional, yang dimana ditentukan oleh negara-negara besar saja.
Makna kata “merdeka” terasa sekedar simbolik saja, karena pada dasarnya kita masih mengikuti standar pihak tertentu agar bisa diterima.
Ketika kita mencoba menjadi diri sendiri, yang bisa jadi ga sesuai standar sosial, kita akan menghadapi tatapan meremehkan, khawatir dan gestur negatif lainnya dari lingkungan kita.
Menghadapi tantangan tersebut butuh mental kuat yang luar biasa besar.
Dengan begitu, mau ga mau kita hidup seperti dalam teori Dramaturgi.
Dalam teori tersebut, Goffman menjelaskan bahwa kita hidup dalam dua panggung, yakni Front Stage (panggung depan dimana kita memakai topeng dan berakting sesuai ekspetasi penonton/masyarakat) dan Back Stage (panggung belakang dimana kita menjadi diri sendiri).
Jebakan “Zona Nyaman” dan Ketakutan akan Kegagalan
Mengikuti panggilan jiwa butuh keberanian yang besar untuk memulai dari nol dan siap menghadapi ketidakpastian, karena ga ada jalur petanya.
Berbeda kalau kita ikut sistem yang sudah terbentuk, jalurnya sudah ada, rapi dan punya kepastian hidup yang nyaman. Hal ini memunculkan rasa takut gagal, takut miskin dan takut salah langkah untuk orang-orang yang hidup di luar sistem.
Oleh karena itu, banyak dari kita yang lebih rela bosan dengan rutinitas, atau ga bahagia dalam kehidupan yang kita jalani, ketimbang bahagia dengan apa yang kita inginkan.
Hal ini sudah diteliti oleh Erich Fromm, dalam bukunya Escape from Freedom yang dimana manusia selalu menginginkan kebebasan, namun ketika kebebasan sudah didepan mata, manusia cenderung takut dan cemas, karena kebebasan itu penuh ketidakpastian.
Dari kapan hal ini terjadi?
Kalau kita tarik dari garis sejarahnya, asal muasalnya itu terjadi saat Revolusi Agrikultur (Pertanian) sekitar 10.000 – 12.000 tahun lalu.
Dalam buku Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia yang ditulis oleh Yuval Noah Harari, momen ini menjadi “penipuan terbesar dalam sejarah”.
Mari kita bedah sesuai lini masanya.
Zaman Pemburu – Pengumpul (sebelum 10.000 SM) : Era Kebebasan Otonom
Dimasa ini manusia disebut sebagai manusia purba yang hidup dalam kelompok kecil sebagai pemburu dan pengumpul makanan.
Mereka bekerja sekitar 3-5 jam sehari hanya untuk memenuhi kebutuhan perut, selebihnya dipakai untuk bersosialisasi, mendongeng dan ritual.
Setiap individu memiliki otonomi tinggi atas dirinya. Kalau mereka bosan atau tidak cocok dengan pemimpin kelompok, mereka bisa tinggal berjalan kaki, pindah ke wilayah baru.
Hidup manusia di masa ini selaras dengan insting dan panggilan alam.
Revolusi Agrikultur (Mulai 10.000 SM) : Lahirnya “Jebakan Rutinitas”
Di masa ini manusia menemukan cara bercocok tanam dan menjinakkan hewan. Manusia mulai menetap. Terlihat nyaman, namun efeknya :
Terbelenggu tanah, manusia yang tadinya bebas menjelajah, jadi harus menetap untuk menanam gandum, padi ataupun jagung.
Manusia harus berdiri di ladang dari matahari terbit sampai terbenam, mencabuti rumput liar dan menyiram tanaman demi memastikan panen ga gagal.
Lahirnya kepemilikan dan hierarki, kemudian muncul konsep surplus makanan dan kepemilikan tanah.
Disini lahir penguasa, sistem kasta dan pajak.
Dititik ini lah pertama kalinya dalam sejarah, mayoritas manusia, seperti kaum petani atau rakyat jelata mulai kehilangan pilihan.
Mereka harus bertani demi menghidupi para raja, prajurit dan pendeta yang berada di puncak struktur sosial.
Panggilan jiwa sebagai manusia luntur, digantikan dengan peran sebagai “alat produksi”.
Revolusi Industri (Abad ke 18) : Manusia menjadi Sekrup Mesin
Kalau Revolusi Agrikultur mengikat fisik manusia pada tanah, maka Revolusi Industri mengikat pikiran dan waktu manusia pada jam dinding dan mesin.
Lahirnya jam kerja, sebelum abad ke-18, manusia bekerja mengikuti ritme alam, seperti matahari terbit dan terbenam.
Kemudian muncul Revolusi Industri yang menciptakan sistem pabrik, manusia dipaksa bangun jam 5 pagi, berbaris masuk pabrik dan melakukan gerakan repetitif yang sama sekitar 12-16 jam sehari di bawah pengawasan mandor.
Standarisasi massal, konsep sekolah modern lahir dan dirancang untuk melatih kebanyakan orang menjadi pekerja pabrik yang patuh, tepat waktu dan bisa dipertukarkan dengan sekrup mesin.
Di masa ini keunikan individu benar-benar dibunuh demi efisiensi industri.
Era Kapitalisme Modern dan Media Sosial (Abad ke 20 – sekarang) : Penjajahan Pikiran
Puncaknya, di era sekarang kita hidup, kita dikondisikan sejak kecil masuk dalam “skrip kehidupan” yang seragam, seperti sekolah, kuliah, kerja korporat, beli aset, lalu pensiun.
Keinginan kita pun sering kali bukan keinginan asli, melainkan keinginan yang didoktrin oleh iklan dan apa yang kita lihat di sosial media.
Siapa yang membuat sistemnya?
Nah, kalau ditarik kesimpulan dari berbagai literasi, sistem ini muncul sebagai dampak berantai dari keputusan kolektif manusia.
Tujuan utamanya ingin membuat hidup lebih mudah, tapi malah berujung terjebak sistem.
Mari kita bedah siapa “aktor” dibalik masing-masing revolusi tersebut “
Revolusi Agrikultur : “Pelakunya” adalah Gandum dan Padi
Menurut Harari, awalnya manusia purba iseng mengumpulkan gandum liar. Kemudian benih gandum itu tercecer di sekitar perkemahan mereka dan tumbuh. Kemudian manusia sadar, dari pada jalan jauh cari makanan, mending urus tanaman di dekat rumah.
Jebakan evolusi, keputusan kecil ini diambil secara kolektif oleh berbagai suku di dunia, seperti Mesopotamia, Tiongkok dan Mesoamerika, secara terpisah.
Manusia mengira mereka menjinakkan gandum. Namun, menurut penelitian Harari, yang terjadi malah sebaliknya gandum yang menjinakkan manusia.
Kok bisa? Gandum memaksa manusia menetap, mematahkan punggung mereka untuk bertani dan membuat populasi meledak.
Begitu populasi meledak, manusia ga bisa balik lagi jadi pemburu karena makanannya ga bakal cukup, sehingga manusia harus bertahan dengan cara yang sudah ada.
Revolusi Industri : Para Pemilik Modal dan Penemu Teknologi
Motor penggerak dalam revolusi ini adalah kombinasi antara ilmuwan / penemu dan kaum borjuis (pemilik modal) di Inggris pada abad ke-18.
Kemudian terjadi rangkaian seperti bola salju
Para penemu, orang-orang seperti James Watt (yang menyempurnakan mesin uap) dan James Hargreaves (penemu mesin pintal benang), awalnya hanya ingin bikin alat yang bisa kerja lebih cepat dan efisien.
Para kapitalis awal, ketika mesin ini lahir, para pemilik modal melihat peluang cuan yang masif, sehingga mereka mengumpulkan mesin tersebut dalam satu gedung besar, yang kemudian melahirkan istilah Pabrik.
Sistem yang memaksa, untuk menjalankan pabrik, pemilik modal butuh tenaga kerja yang masif dan murah. Di saat yang sama, tanah-tanah pertanian di Inggris mulai diprivatisasi oleh kerajaan.
Para petani pun kehilangan lahan, yang akhirnya ga punya pilihan, selain urbanisasi ke kota dan menjual tenaga mereka di pabrik.
Sistem jam kerja, mandor dan standardisasi hidup, akhirnya tercipta secara organik karena kebutuhan dan efisiensi industri.
Sistem Sekolah Modern (Pencetak “Sekrup Mesin”) : Kerajaan Prusia Jerman
Nah, kalau sistem sekolah yang memaksa kita seragam dan kehilangan panggilan jiwa sejak kecil, perancangnya adalah Kerajaan Prusia (bagian dari Jerman), di abad ke-18.
Aktor utamanya adalah Raja Frederick Agung (Frederick the Great).
Sistem ini tercipta diawali dari kekalahan perang, Kerajaan Prusia sadar bahwa mereka butuh sistem untuk menciptakan masyarakat patuh, sehingga diciptakanlah desain Prussian Education System.
Sekolah ini gratis dan wajib, namun strukturnya sangat mirip barak militer atau pabrik. Seperti, ada bel masuk, seragam, duduk berbaris, ujian massal dan kepatuhan mutlak pada guru.
Tujuannya untuk melatih orang-orang yang bersekolah ini menjadi tentara yang patuh dan buruh pabrik yang efisien.
Sistem sekolah inilah yang ditiru oleh Amerika, Inggris, diadopsi juga oleh Belanda, dan akhirnya kita mewarisi sistem sekolah yang sama sampai sekarang.
Hoho.. rentetan ini lah yang membuat kita hidup terjebak dalam sistem kehidupan yang sudah disepakati secara kolektif, sehingga sulit untuk kita menjalani sesuatu sesuai panggilan jiwa.
Tapi, apakah bisa kita keluar dari sistem tersebut?
Tentu saja bisa, dong.. kita bahas artikel selanjutnya yaa, tentang solusinya π

Leave a comment