Mengupas Tarot : Dari Stigma Mistis Menjadi Media Refleksi Jiwa

“Takut musyrik!”, menjadi keraguan terbesar Ina, salah satu peserta Tarot Course batch 2, untuk mempelajari bacaan Tarot lebih dalam.

Keraguan yang sama juga dirasakan oleh Indri, peserta batch 2 juga, sebelum akhirnya memutuskan untuk ikut kelas Tarotnya Sacred Empress.

Sejak tahun 1780an, Tarot mengalami branding yang cukup kental dengan dunia mistis. Musyrik, itulah label yang paling sering kita dengar. Tarot dijauhi oleh seluruh agama.

Dan tahukah kamu, kalau label mistis dan musyrik tersebut sebenarnya bagian dari doktrin politik supaya masyarakat kembali patuh pada pemerintahan? Hehe… nanti akan dibahas di artikel lain yaa..

Terus, kok malah bisa jadi media refleksi untuk diri kita sendiri?

Nah, ini ada perjalanan ceritanya…

Hadirlah Carl Gustav Jung, psikoterapis asal Swiss yang begitu terkenal. Beliau murid kesayangan Sigmund Freud, bahkan sempat mau dijadikan penerus, namun terjadi perbedaan pandangan tentang ilmu pengetahuan psikologi.

Di mata Freud, dorongan psikologis manusia hanya bersumber pada libido seksual. Sedangkan, Jung berpendapat bahwa psikologis manusia terdiri atas energi, spiritual dan pencarian makna hidup.

Dalam penelitiannya yang menggabungkan sains dan humaniora, Carl Jung menemukan beberapa rumus teori, seperti ketidaksadaran kolektif (collective unconscious), arketipe (simbol) dan tipologi kepribadian.

Nah, dari 3 teori tersebut, kita bahas dua diantaranya, ya.

Memori manusia dibagi menjadi dua, yakni sadar dan tidak sadar.

Memori ketidaksadaran kolektif ini merupakan lapisan terdalam pikiran manusia, yang memiliki memori dirinya sendiri dan struktur psikis yang diwariskan oleh nenek moyang.

Memori diri, merupakan memori awal yang hadir dalam diri kita sebelum dirusak oleh ekspektasi dunia, yang kita sebut sebagai jiwa. Misalkan, kita menyukai sesuatu hal dan mudah menguasainya, padahal baru sebentar belajar. Itu artinya jiwa kita menuntun potensi kita yang sebenarnya.

Kemudian trauma turunan, seperti kita sudah takut duluan melihat macan, padahal belum pernah digigit. Ternyata itu trauma dari nenek moyang, yang mungkin pernah diserang macan.

Sepanjang penelitian Carl Jung tentang psikologi manusia, beliau melihat bahwa komunikasi kita tidak hanya dalam bentuk kata, tapi simbol dan tanda.

Ada the shadow, yakni sisi gelap dan liar dari diri kita. Ada persona yang menjadi topeng sosial kita. Serta ada sisi anima dan animus (sisi maskulin wanita, dan sisi feminin pria).

Nah, disinilah Carl Jung melihat gambar-gambar dalam kartu tarot mampu merepresentasi simbol yang ada dalam pikiran manusia tentang siklus kehidupan.

Perjalanan Carl Jung memperkenalkan Tarot sebagai alat terapi atau refleksi diri.

Tahun 1933, Carl Jung mengadakan eksperimen mandiri pada dirinya dan komunitasnya, yang hasil penelitiannya antara lain

Tarot sebagai gambar arketipe
Menurut Jung, kartu Tarot Marseille merupakan kumpulan gambaran arketipe, yang mempresentasikan situasi, tokoh, perjalanan hidup yang bersifat universal.

Menjelaskan cara kerja tarot (intuisi dan proyeksi)
Jung menjelaskan bahwa Tarot sebagai media untuk membuka pintu intuisi. Ketika seseorang melihat gambar di kartu Tarot, maka pikiran sadarnya akan melakukan “proyeksi” melalui gambar tersebut. Sehingga, hal-hal yang tadinya tersembunyi di alam bawah sadar bisa naik ke permukaan dan dipahami oleh pikiran sadar.

Kemudian riset ditunda sekitar tahun 1939-1945 karena perang dunia II, dan kesehatan Jung menurun, baru kemudian riset kembali dilanjutkan pada tahun 1950an.

Sayangnya, di tahun 1960, Jung yang memang usianya sudah sepuh, mengalami penurunan kesehatan, riset tentang eksperimen sinkronisitas (tentang Tarot, Astrologi, dan I Ching) mengalami kendala karena kekurangan dana dan tenaga ahli.

Penjelasan ini didapatkan dari surat balasan Jung pada A.D. Cornell, peneliti supranatural/parapsikologi asal Inggris, yang menanyakan kemajuan riset Jung tentang teori Sinkrosinitas, pada 9 Februari 1960.

Tapi jangan khawatir, ada penerus yang melanjutkan risetnya kok, seperti Sallie Nichols, yang dimana buku “Jung and Tarot : An Archetypal Journey” terbit pada tahun 1980, dan diterima oleh komunitas psikologi analitis.

Kemudian ada Marie K. Greer yang menerbitkan buku “Tarot for yourself” pada tahun 1984, yang meruntuhkan stigma mistis pada Tarot.

Boomingnya buku tersebut, membuat masyarakat mulai menerima tarot sebagai media jurnal harian (journaling), alat meditasi, dan perangkat psikoterapi mandiri untuk memahami emosi sendiri.

Dan ini terus menyebar hingga akhir 1980an sampai 1990an, tarot pun tidak lagi menjadi momok mistis, melainkan media refleksi diri kita. Penerbit toko besar memajang tarot di etalase secara terbuka dan ga di banned pemerintah.

Kini Tarot sudah bukan lagi menjadi simbol musyrik atau mistis, seperti yang terjadi pada abad ke-18. Tapi menjadi media bantu dalam psikoterapi.

Oleh karena itu, buat teman-teman yang ragu, semoga dengan penjelasan pada artikel ini bisa lebih tenang, karena bacaan Tarot yang diajarkan Teh Tiwi murni untuk mengenal diri kita lebih dalam, baik itu luka maupun potensi diri kita.

Nah, bagi teman-teman yang mau ikut kelas Tarot Sacred Empress batch berikutnya, bisa pantau terus Instagram @sacredempress atau bisa juga @sacredempress.community.

Salam hangat selalu πŸ™‚

Leave a comment